Sekarang sedang musim pancaroba di Malang dan Blitar, tempat saya tinggal. Kemungkinan hampir di seluruh Indonesia juga bernasib sama. Jika siang sangat terik sekali. Suhu rata-rata di atas 30° C.

Pokoknya setiap siang pasti topless jika saya di kost. Terasa seperti dibakar saja. Bahkan orang sepuh (tua) bilang seperti ini kepadaku. “Le, ndonya ne panas gara-gara pemanasan global” (Nak, dunianya panas akibat pemanasan global)

Saya cuma mengiyakan saja, dan berbicara dalam hati, ternyata Pemanasan Global adalah isu Global, bahkan orang yang sudah sepuh saja tahu. Benar benar bumi ku semakin panas.

Bukan disebut pancaroba jika cuaca tidak berubah drastis. Yaph, setalah siang panas bak neraka, menjelang sore hujan dengan derasnya. Hawa adem mulai menggantikan panas.

Coba bayangkan saja, gelas yang semula diberi panas lalu didinginkan saja retak. Apalagi tubuh kita ini, jika dalam keadaan capek. Jadi gampang terkena flu.

Di musim Pancaroba ini diharapkan kita dapat menjaga kesehatan. Jangan sampai kita kalah dengan sakit dan pekerjaan kita kacau. Waspada juga dengan DBD.

Salam Blogger!