Beberapa saat yang lalu saya mendengar percakapan ayah dan adik yang bungsu. Karena cukup menarik, oleh karena itu saya coba untuk bagikan kepada semuanya. Postingan ini aku dedikasikan untuk Ayahku yang tidak pernah lelah mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga.

kinan : “ayah, kapan rumahnya diperbaiki? Temboknya masih batako.”

ayah : “iya nanti, jika sudah punya uang”

kinan : “nanti kapan ayah?”

ayah : “nanti jika kalian bertiga, sudah sarjana”

Mendengar hal itu jadi ingat dulu, jika aku pernah protes dengan keadaan rumah. Keluarga kami punya rumah sendiri sejak aku kelas 3 SD. Rumah pertamaku masih dari bambu. Baru sekitar aku SMA rumah sudah dibangun jadi tembok. Tembok dengan susunan batako. Belum dipelur sehingga terlihat halus.

Pernah juga suatu saat ke rumah teman. Rumahnya bagus, sudah berporselin lantainya. Jauh dari rumahku yang asal jadi saja. Tapi saya tersadar jika harus bersyukur sudah memiliki rumah. Tempat aku tidur bahkan tempat belajar untuk menuntut ilmu.

Aku memang harus bersyukur, aku tidak boleh menengok ke atas. Karena di bawah aku masih banyak banyak yang belum punya rumah. Sejelek-jelek apapun rumah aku, tetap istanaku. Mengapa saya dapat mengatakan itu? Karena siapapun yang datang ke rumahku pasti kerasan. Mulai dari teman adik tengah, walaupun dari pagi sampai sore betah di rumahku. Apa lagi anak tante, bakalan nangis teriak-teriak jika dipaksa pulang dari rumahku.

Kenyamanan rumah ternyata tidak diukur dari berapa banyak materi, tetapi dari tingkat kenyamanan seseorang yang ada di dalamnya. Sehingga jadi ingin selalu kembali.

Rasa banggaku kepada ayah semakin tinggi. Beliau tidak memikirkan rumah atau kendaraan. Yang dipikirkan hanyalah pendidikan anaknya. “lebih baik rumah jelek dan kendaraan jelek, yang penting kalian semua sarjana”. Bukan rumah atau apa yang aku syukuri sekarang. Tapi punya ayah yang sangat peduli kepada kami. Love you Dad. Semoga kelak aku bisa sepertimu. Amin.

Sekian pengalaman yang dapat saya bagi. Semoga bermanfaat.
Salam Blogger!