Akhir-akhir ini publik sangat dihebohkan dengan di luncurkannya PRM Menkominfo tentang konten multimedia. Rancangan banyak di kecam dari berbagai kalangan terutama kalangan yang berhubungan erat dengan dunia internet. Karena di dalam rancangan ini banyak sekali batasan-batasan yang sangat mengekang hak kita untuk dapat mengungkapkan ide, tentunya lewat konten multimedia di internet.
Dari kalanga pers menyebutkan bahwa rancangan ini sangatlah bertentangan dengan Pasal 4 UU No 40 tahun 199 tentang Pers. Pasal 4 ayat (2) UU Pers mengatakan: “terhadap pers tidak dikenakan sensor, bredel dan larangan penyiaran” dan ayat (3) mengatakan “untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi”
Menurut yang saya kutip dari detikinet.com
“Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyatakan menolak rancangan Peraturan Menteri ini, karena bertentangan dengan Undang-undang Pers. Jika rancangan peraturan ini disahkan, maka pers Indonesia akan menghadapi era sensor dan bredel baru.”
Saya juga setuju seperti apa yang tertampil pada kutipan diatas, karena jika pers diawasi terus, maka sama saja kembali pada jaman orde baru, yang jelas-jelas sekarang ini adalah eranya untuk dapat bebes mengemukakan pendapat ataupun menyebarkan informasi tanpa batasan apapun.
Selain itu ada pasal yang menyebutkan “Penyelenggara wajib memantau seluruh Konten dalam layanannya yang dimuat, ditransmisikan, diumumkan, dan/atau disimpan oleh Pengguna…” yang diteruskan dengan butir f pada pasal yang sama “melakukan pemeriksaan mengenai kepatuhan Pengguna terhadap aturan penggunaan layanan Penyelenggara”.
Seperinya tidak mungkin sekali penyelenggara (provider), melakukan ini. Ambil contoh saja provider blog lokal seperti blogdetik, ada berapa user terdaftar? Dan bagaimana memeriksa tiap konten stu perstu dari setiap pengguna. Apalagi seperti wordpress.com ataupun blogger.com? mungkin harus direvisi lebih lanjut.
Mengutip lagi dari detikinet.com, menyebutkan bahwa.
“Internet Sehat yang kita inginkan bersama, tidak perlu dicapai dengan cara-cara yang represif. Kita harus percaya bahwa sosialisasi yang mengena adalah cara yang paling ampuh untuk mendewasakan masyarakat kita dalam berinternet. Hak-hak pribadi untuk memilih konten apa yang ingin dilihat juga harus dihormati, sebagai salah satu hak asasi untuk memperoleh pengetahuan secara terbuka.”
Apapun yang terjadi nantinya, yang terpenting adalah menghormati hak untuk mendapatkan segala informasi yang diinginkan melalui media internet, tanpa adnya batasan-batasan.