ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga, sepertinya kebanyakan dari kita cuma mengetahui atau hafal saja dengan lafal tersebut. Saya juga seperti itu, walo hafal tentang aksara jawa tetapi kadang lupa dengan pasangannya.

Perkembangan jaman yang sudah maju membuat kita mungkin lebih berkonsentrasi pada bahasa yang dianggap memiliki prospek yang luas. Makin banyak orang belajar bahasa Inggris, China, Jepang juga (saya sendiri suka belajar bahasa jepang), akan tetapi alangkah tidaklah baik jika kita orang jawa tapi meninggalkan budaya jawa, atau paling tidak bisa menulis dengan huruf yang dibuat asli jawa ini (aksara jawa). Kadang kita juga mendengar kalimat ini.

wong jowo kok nggak njawani!


Atau dapat diartikan orang jawa tetapi tidak beradat jawa, kalimat tersebut biasanya diucapkan oleh nenek ato kakek kita jika kita tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa jawa yang halus.

Dalam adat dan tata bahasa jawa memiliki semacam kasta atau tingkatan dalam bahasa mulai dari ngoko sampai krama. Kadang saya juga kesulitan dalam belajar bahasa jawa, teruta tentang tingkatannya tersebut.

Sebagai generasi penerus budaya ini, setidaknya kita dapat melestarikannya, paling tidak menggunakan dilingkungan keluarga. Jadi jangan menjadi orang yang tidak mengetahui apa yang kita punyai..