Tags
Tanganku masih menggenggam sobekan kertas putih. Bertinta merah darah. Mataku mengatup berleleh embun asin yang mengalir ke pipi. Serta badan polos penuh sayat mengering. Meringkuk pada bebatuan cadas kaki bukit.
Di sampingku, ada seonggok raga kosong. Mati. Membiru perlahan bersama dengan membekunya alam. Terlihat kilasan senyum perdu yang kelu.
Aku berjalan mendekatinya. Membelai rambut urai indahnya. Bibir mungil yang dulu merekah. Pipi rona jingga yang nyaris aku gigit jika melihatnya. Beku. Kini semua pucat pasi.
“Nir, apa kau dengar aku?” beberapa kali aku membisik lirih. Berkali juga tiada jawab. Bau busuk pun tidak.
Aku cubit lengannya yang beku. Tepuk pipinya hingga tetap biru. Tiada perubahan. Sama. Seperti sebulan yang lalu.
“Nir, sekali saja buka matamu. Tinggalkan sisa hangat bibirmu. Di bibirku.” aku elus mungil bibir itu. Lalu tidur di sampingnya.
“Lihatlah langit begitu indah. Taburan serbuk itu merasi. Bukankah kau suka itu Nir?” dan lagi tubuh itu tak bereaksi. Kenapa orang tanpa nyawa tak berekspresi.
Aku getir. Muak. Mengapa sendiri itu begitu menyiksa. Lebih sakit dari melukai setiap kulitku dengan belati. Apa salahku hingga menjadi seperti ini.
“Bangun, jelaskan mengapa kau lakukan ini kepadaku. Mengapa kau semaha jahat ini?” tangisku pecah dan saat itu juga membeku jadi kristal es. Dingin serasa membakar.
Aku tarik tubuh beku ini. Seret. Hingga pada puncak bukit. Aku tengadahkan kepalanya hingga menantang langit.
“Kau lihat bintang keperakan itu? Di sana aku telah membangun rumah untukmu. Apa kau tak percaya?” aku rengkuh kepalanya, berusaha membuka matanya.
Masih tetap mati. Tak bergeming.
Aku getarkan lagi tubuhnya. Tapi kenapa masih saja tak ada balasan. “Kenapa kau ini mati. Kenapa kau rela menukar nyawamu untukku?” angin membawa gema suaraku. Menjauh.
Aku pandangi lagi kertas yang aku cabik tadi. Aku tata ulang perpotongan. Hingga mewujud kalimat.
“Jika kita bersama maka akan terjadi malapetaka. Bumi dan langit akan begejolak. Jadi biarlah aku menukar nyawaku dengan nyawamu setelah membunuhmu. Bukankah sudah terjadi dua kematian? Jadi bulan biru akan kembali tertidur. Tak lagi mengejarmu.” kata terakhir yang tertulis dengan darah.
“Mengapa mencinta itu selalu berbatas dunia. Berbatas dimensi?” aku melengking. Mulutku menyembur api.
Aku gendong wanitaku. Aku kepakkan sayap hitamku. Kuruncingkan ekor dan dua cula di kepalaku.
“Bulan biru. Akan merahkan ranahmu!” seruku melesat rupa kilat. Menuju bulan biru yang datar menatap perihku.
kata2nya mantap
Salken yaa..
kata – kata dalam sebuah karya sastra mengandung makna tersendiri yang mendalam, dinantikan karya selanjutnya… trim’s
bingung aku membacanya…….ternyata aku gak paham sastra
begh! deg-degan saya bacanya.. kereeeeeeeeeeeennnn!! diksinya mantap!
hmm, dalaaam banget,
aku belum bisa buat karya yang sepperti anda mas, kereen..
Sy mah ndak terlalu paham ttg sastra,
Masih bingung dg makna cerita ini, tapi bagus.. bahasanya itu lho..
Glek! Aih aih… bahasamu ingin kulumat saja rasanya…
Keren banget, Di
Adi, lagi seneng bikin posting pake rupa-rupa warna ya, bulan biru…ah, romantis!
Biarpun ceritanya agak ‘menyeramkan’, tapi tetep kesan romantis itu nggak bisa hilang…
Ditunggu goresan selanjutnya
ahai…, selalu asyik goresan Mas Adi Nogroho ini…
makasih banyak ya mas…, menjadikanku berdesir di bulan biru….