Kulit Kartini

Tags

, , ,

aku heran pagi ini
saat dingin masih yang biru
puluhan puan manis
anggun dengan wewarni
memadati aspal
rayaprayap berkebaya

o, pawai kartini
gemboran emansipasi

aku heran lagi
kemarin agak siang
terik memberangas pori
tiga puan menyebar genit
amboi tak kuasa
busana asli kulit :
mulus mereka!

o, pawai birahi
gemboran nikmat surgawi

aku heran aku heran
setiap hari kulit
kupandang kulit
kulirik kulit
kuintip juga mengulitulit

o, jaman kulit
sandang ruparupa kulit
apa memang sulit tanpa kulit

lantas
rapi anggun cuma kartini
tarmini saat hari tarmini
kulit atau kulit

Dimuat

Tadi sebelum jumatan, aku dapat sms dari nomor tak dikenal. Iseng aku biarkan saja karena deadline ke masjid makin mepet. Usut punya usut ternyata nomor itu menginfokan sesuatu kepadaku. Begini bunyinya…

Selamat kepada 5 besar writing contest on the spot yg karyanya telah dimuat di Malang pos.

Continue reading »

Comeback Stage

Di bawah ini adalah tiga puisi yang aku buat kemarin. Entah karena sedang berhalusinasi (kata teman) atau pikiran sedang demam seperti badannya. Jadilah seperti ini, pendek-pendek.

/1/
kunang dan kodok ingat

dulu sekali
aku masih ingat
saat kunang masih terbang
gelap sudah lengkap

pada pojok kali
di batuan agak coklat
berudu sering berenang
melawan arus siap
Continue reading »

Fuji

Waktu kecil ayah pernah bilang. “Jika senja datang pergilah ke tepian laut. Lihat ke arah puncak gunung Fuji. Jika kau melihat cahaya di sana segeralah berdoa. Dalam waktu dekat yang kau inginkan akan terkabul.” Aku masih ingat itu. Bahkan nyaris mengerak hingga setiap detil aku pahami.

Sore musim panas begitu hangat. Aku bersepeda dari rumah menuju pinggiran pantai. Rumahku berada di sepanjang teluk Suruga, Perfektur Shizuoka. Lepas pantai langsung dihadang gunung Fuji. Mungkin desaku memang dilindungi dewa yang bersemayam di ujung gunung sana.

Continue reading »

Hanamizuki

Aku terdiam di dekatnya. Menatap berpuing kelopak bunga yang hambur ke udara. Sesaat kemudian dia tersenyum. Menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Hana, apa hari ini kau bahagia?” dia tersenyum lebar. Aku bisa membaca aksara dari setiap gerak wajahnya. Sangat jelas. Aku tahu isi pada ranah hatinya.

Hari ini aku membawakannya sekotak permen buah. Sejak kecil aku hafal apa yang menjadi kesukaannya. Aku berikan dua butir permen warna merah dan hijau. Ia makan sambil memelukku. Erat.

Continue reading »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 383 other followers