Latest Entries »

Berperan “Manusia”

Betapa lelahnya beralih rupa. Sekujur sayapku terasa kaku. Menjadi manusia ternyata bukan pilihan yang tepat. Terlalu banyak noda hitam yang terpercik. Separuh magisku pudar. Berbalas keruh pada mata ketigaku. Hasrat pada mula semuanya.

***
View full article »

Peluh Rindumu

pada silir merindu, aku masih hambar
melihat rasa
pada sekat dimensi bisu, aku masih
mencabik kata bersimpul
merayap
mengendus
menjilat
mencari peluh rindumu
untukku

Dengan Caramu

Kamboja putih bergugur tersilir sepoi angin sore itu. Aku terdiam di depan pusara putih. Tanah bergunduk terlihat baru, bertabur tujuh rupa bunga.

Aroma wangimu tercium hingga buatku nanar.

“Sayang, apa kau nyenyak di sana?” kuelus patok putih bertulis hitam itu dengan lembut.
View full article »

Pesolek Cantik

Masih teringat kala itu. Saat kau memekik sumpah setia. Merdu suaramu masih terngiang sampai sekarang. Ya, janji pesolek cantik yang merontokkan hatiku.

“Kau? Apa yang kau lakukan dengan berandal itu di sini?” aku terkaget melihat wanitaku melenguh nikmat ditindih pria tak ku kenal.

“Tentu saja mencari kenikmatan” jawab wanitaku renyah. Membungkus tubuhnya dengan handuk.
View full article »

Gincu Merah

Lebam memenuhi mukaku. Mata panda, bibir sobek dan bengkak sekujur tubuh. Aku masih kuat Yah setelah ini. Kau bunuh pun jiwaku masih akan hidup. Biarkan aku begini, hidup dengan jati diri tanpa topeng hipokrit.

“Anak sialan, bukan takdirmu bersolek dengan gincu merah. Lihat!! Kau itu pria!!” Ayah menarikku ke depan cermin. Mengambil gincu dan mencoreng mukaku pada cermin. Lalu meninjunya hingga pecah.
View full article »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 323 other followers