Yang aku tahu sekarang, cuma merenung. Memanjat doa baik-baik. Lalu memandangmu lekat dari balik kaca.
Sayang, kau masih indah meski kata mereka nyawamu lilin. Akan lumer dan habis, secepatnya.
Continue reading
Yang aku tahu sekarang, cuma merenung. Memanjat doa baik-baik. Lalu memandangmu lekat dari balik kaca.
Sayang, kau masih indah meski kata mereka nyawamu lilin. Akan lumer dan habis, secepatnya.
Continue reading
Aku membenci ibu.
Sejak malam berlendir itu, aku mulai menyukai dingin. Meringkuk di bawah AC hingga menggigil, atau merendam tubuhku di air dengan bongkahan es batu.
Continue reading

aku tak bisa melihat hujan yang katanya
banjir sore ini. hanya ada anak itik gelenggeleng
mencari bulunya yang patah sebelah.
seharusnya dingin sore ini merusuk hingga
aku tak mau lepas, memeluki angan.
tapi anak itik itu malah menangis
berteriak, “apa kau tak kedinginan?”
aku lama lupa semua rasa. bahkan saat
hujan sore ini enggan menampakkan liurnya
yang pernah kurasa panas.
2012

Gambar dari Google.
.
.
“Apa kau sungguh ingin jadi suamiku?”
Dia mengangguk dan memegang tanganku erat-erat, “Tentu saja!”
Duniaku berubah saat itu juga. Terlebih saat dia meminangku di rumah.
“Aku sungguh menyayangimu!” kupeluk dia. Kusesap aroma tubuhnya. Aroma kesungguhan. Continue reading